Powered By Blogger

Rabu, 06 April 2011

(( و اعلم أنَّ الأمة لو اجتمعت ... ))


Sambungan ….
âرياض الصالحين:  كتاب المأمورات : باب المراقبة :  رقم الحديث ٦٤á
شرح الحديث أيضا :
قوله صلّى الله عليه و سلّم : (( و اعلم أنَّ الأمة لو اجتمعت ... )) . ذلك أنّ الفعّال لما يريد هو الله سبحانه و تعالى و لا حول و لا قوّة إلاّ بالله و كلّ ما قدَّره الله كائن و العكس صحيح. ﴿روضة المتّقين : ۱۰۷
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : (…) , Demikian bahwa sanya yang efektif, efisien, tatkala Dia Allah Subhanahu wa Ta’ala bermaksud yang tiada daya dan upaya melainkan dengan (izin)-Nya dan setiap yang Allah tetapkan yang ada dan sebaliknya (pun jika Allah yang bermaksud) adalah benar. [Raudlatu’l Muttaqin: 107]         
وقد دلَّ القرآنُ على مثل هذا في قوله تعالى : } قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلاَّ مَا كَتَبَ اللهُ
لَنَا
{([1]) ، وقوله : } مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأَرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا {([2]) ، وقوله : } قُلْ لَوْ كُنْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ {([3]) . ﴿جامع العلوم والحكم:١:٥٦٦
Dan sunnguh al Qur’an telah menjelaskan hal yang demikian sebagaimana firman-Nya Yang Maha Tinggi : {Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang Telah ditetapkan Allah untuk kami"…}, dan firman-Nya : {Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan Telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya…}, dan firman-Nya : {…Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang Telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh"…}. [Jamiu’l Ulum wa’l Hikam: 1: 566/e-book]
واعلم أنَّ مدارَ جميع هذه الوصية على هذا الأصل ، وما ذُكِر قبلَه وبعدَه ، فهو متفرِّعٌ عليه ، وراجعٌ إليه ، فإنَّ العبد إذا علم أنَّه لن يُصيبَه إلا ما كتبَ الله له مِنْ خير وشرٍّ ، ونفعٍ وضرٍّ ، وأنَّ اجتهادَ الخلق كلِّهم على خلاف المقدور غيرُ مفيد البتة ،    
Dan ketahuilah bahwa sanya putaran seluruh wasiat ini adalah di sini (pen: dari lafadz و اعلم أنَّ الأمة...), dan apa yang disebutkan sebelum dan sesudahnya adalah perinciannya, dan kembali kepadanya. Karena sesungguhnya seorang hamba apabila ia telah mengetahui bahwa sanya tidak akan ada suatu musibah menimpanya kecuali apa yang telah Allah tetapkan baginya, yang baik ataupun yang buruk, kemanfaatan ataupun kemadlaratan. Dan bahwa sanya ijtihad makhluq seluruhnya jika bertolak belakang dengan yang ditetapkan (-Nya) tidaklah berfaidah sedikit pun.
علم حينئذٍ أنَّ الله وحده هو الضَّارُّ النَّافعُ ، المعطي المانع ، فأوجبَ ذلك للعبدِ توحيدَ ربِّه
تعالى ، وإفرادَه بالطاعة ، وحفظَ حدوده ، فإنَّ المعبود إنَّما يقصد بعبادته جلبَ المنافع ودفع المضار ،
Ketika itu ia mengetahui bahwa sanya Allah Yang Maha Tunggal, Dia-lah Yang memberi madlarat dan manfaat, Yang Memberi dan Yang Menahan. Maka dengan demikian wajib bagi seorang hamba bertauhid kepada Rabb-nya Yang Maha Tinggi, menunggalkan-Nya dalam ketaatan, dan memelihara batas-batas-Nya,  karena sesungguhnya Yang Diibadahi tiada lain dengan beribadah kepada-Nya mendatangkan berbagai manfaat dan mencegah berbagai kemadlaratan.
ولهذا ذمَّ الله من يعبدُ من لا ينفعُ ولا يضرُّ ، ولا يُغني عن عابدِهِ شيئاً ،
Dan oleh karena itu, Allah mencela bagi yang beribadah kepada yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi madlarat, dan tidak memberi kecukupan dari penghambaannya sedikit pun.

فمن علم أنَّه لا ينفعُ ولا يضرُّ ، ولا يُعطي ولا يمنعُ غيرُ الله ، أوجبَ له ذلك إفراده بالخوف والرجاء والمحبة والسؤال والتضرُّع والدعاء ، وتقديم طاعته على طاعةِ الخلق
جميعاً ، وأنْ يتّقي سخطه ، ولو كان فيه سخطُ الخلق جميعاً ، وإفراده بالاستعانة به ، والسؤال له ، وإخلاص الدعاء له في حال الشدَّة وحال الرَّخاء ،
Maka bagi yang telah mengetahui bahwa ia yang diibadahi tidak dapat memberi manfaat dan madlarat, dan tidak dapat memberi atau pun menahan selain Allah, wajib baginya dengan hal itu menunggalkan-Nya dalam rasa takut, perharapan, rasa cinta,  permohonan, merendahkan diri, dan do’a. Serta mengutamakan ketaatan kepada-Nya atas ketaatan kepada makhluq seluruhnya. Serta berhati-hati pada murka-Nya, walaupun padanya menimbulkan kemurkaan makhluq seluruhnya. Serta menunggalkan-Nya dalam memohon pertolongan-Nya, meminta kepada-Nya, dan mengikhlaskan do’a bagi-Nya dalam keadaan sempit dan dalam keadaan lapang.
 بخلاف ما كان المشركون عليه من إخلاص الدعاء له عندَ الشدائد ، ونسيانه في الرخاء ، ودعاء من يرجون نفعَه مِنْ دُونِه ، قال الله تعالى : } قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ {([4]) . ﴿جامع العلوم والحكم:١:٥٦۷      
 Berbeda keadaannya dengan orang-orang musyrik dari ikhlasnya do’a bagi-Nya hanya ketika dalam keadaan-keadaan sempit, dan melupakan-Nya dalam keadaan lapang, dan do’a yang mereka orang  musyrik mengharap manfaat selain dari-Nya. Firman Allah Ta’ala : {…Katakanlah: "Maka Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku". kepada- Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.}. [Jamiu’l Ulum wa’l Hikam: 1: 567/e-book]
قوله صلّى الله عليه و سلّم : (( رُفِعت الأقلام ، وجفَّت الصحف )) هو كنايةٌ عن تقدُّم كتابة المقادير كلِّها ، والفراغ منها من أمدٍ بعيد ، فإنَّ الكتابَ إذا فُرِغَ من كتابته ، ورفعت الأقلامُ عنه ، وطال عهده ، فقد رُفعت عنه الأقلام ، وجفتِ الأقلام التي كتب بها مِنْ مدادها ، وجفت الصَّحيفة التي كتب فيها بالمداد المكتوب به فيها ، وهذا من أحسن الكنايات وأبلغِها . وقد دلَّ الكتابُ والسننُ الصحيحة الكثيرة على مثل هذا المعنى ، قال الله تعالى :
} مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأَرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ

ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ {([5]) . ﴿جامع العلوم والحكم:١:٥٦٥
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : (…) , adalah kinayah dari didahulukannya pencatatan taqdir-taqdir seluruhnya, dan penyelesaian darinya mengandung masa yang jauh, karena sesungguhnya al Kitab (Lauhul Mahfudz) apabila telah usai penulisannya, diangkatlah qalam-qalam darinya, dan panjang masanya, maka sungguh dianggkat darinya qalam-qalam, dan telah habis qalam-qalam yang ditulis dengan tintanya, dan ash-shahifah telah habis yang ditulis padanya dengan tinta yang dituliskan padanya. Semua ini adalah sebaik-baik kinayah dan penyampaian tentangnnya. Dan sungguh al Qur’an dan as Sunnah yang shahih telah banyak menjelaskan makna ini, firman Allah Ta’ala : {Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan Telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.}. [Jamiu’l Ulum wa’l Hikam: 1: 565/e-book].         Bersambung...... Insya Allah.                


([1]) التوبة : 51 .
([2]) الحديد : 22 .
([3]) آل عمران : 154 .
Mubahatsah Kitab  _Riyadhush Sholihin I 38

([4]) الزمر : 38 .
([5]) الحديد : 22 .
Mubahatsah Kitab  _Riyadhush Sholihin I 39

Tidak ada komentar:

Posting Komentar